Barong Kemiren
Barong Kemiren atau di sebut juga Barong Banyuwangi adalah kesenian kuno asal banyuwangi merupakan
bentuk seni pertunjukan rakyat yang menggunakan madia barong. Kesenian
ini diyakini sangat sakral, sehingga ada perlakuan khusus. Barong
Kemiren berhubungan dengan Buyut Cili, yang diyakini penduduk setempat
sebagai cikal bakal desa. Disaat-saat tertentu barong harus diupacarai,
diberi sesaji, serta dirawat dengan hati-hati.
Wujud Sakral Barong
Ada yang mengisahkan, barong bermula dari pertarungan dua bangsawan sakti dari Bali dan Blambangan.
Mereka, Minak Bedewang dan Alit Sawung. Tanpa penyebab jelas, keduanya
terlibat pertarungan hebat. Mereka bertarung tanpa henti hingga jangka
waktu lama. Tak satu pun yang terluka. Masing-masing menggunakan wujud
sakti yang mengerikan, seekor harimau besar dan burung garuda. Dua
perwujudan ini bertarung dahsyat. Suaranya menggelegar persis
halilintar. Meski saling serang, kedua kesatria itu tetap sama kuatnya.
Hingga munculah suara aneh dari langit. Suara tanpa rupa itu
mengingatkan agar menghentikan pertempuran. Keduanya diminta berdamai.
Akhirnya, kedua wujud menyeramkan itu bersatu. Sejak itu, masyarakat
Using memiliki wujud barong sebagai simbol kebersamaan. Diyakini, barong
bisa mengusir pengaruh jahat,penyakit dan segala bahaya. Hingga kini,
tarian Barong dan barong sangat disakralkan. Sebelum ditarikan, barong
wajib diberi ritual khusus. Jika tidak, akan berbahaya bagi penari dan
warga sekitar. Barong juga tidak sembarangan ditarikan. Ditarikan
terutama untuk ider bumi atau selamatan desa. Nilai mistis barong tetap
dijaga. Mereka yang berhak menari barong adalah orang pilihan alam.
Sejarah Barong Kemiren
Kesenian Barong Versi 1
Menurut Hasnan Singodimayan, budayawan setempat, kesenian barong
Kemiren bercerita tentang gadis cantik bernama Ja'rifah, yang dijaga
hewan bertubuh besar bermuka buruk--yang kemudian disebut
barong--melawan penjajah. "Barong sangat setia kepada tuannya sehingga
dianggap simbol kepahlawanan," tutur Hasnan.Kesenian barong Kemiren
mirip kesenian barong di Bali. Kemiripan ini, menurut Hasnan, sangat
wajar karena kedekatan kultur yang saling mempengaruhi dalam sejarah
hubungan antara Bali dan Banyuwangi. Bedanya, secara fisik ukuran barong
Bali lebih besar dan tidak punya sayap. Menurut Hasnan, ada beragam
versi tentang sejarah barong Kemiren. Ada yang menyebut barong bukan
kesenian asli Jawa, melainkan dari Bali. Kesenian ini dibawa dan
dikembangkan warga Bali yang terpaksa bermukim di Banyuwangi karena
terjadi kekacauan di Bali.
Kesenian Barong Versi 2
Versi lain menyebutkan kesenian barong berasal dari Cina, yang masuk
Jawa pada zaman Majapahit. Ada kemiripan antara barong dan tari Singa
Cina ( Tari Barongsai ), yang berkembang pada zaman Dinasti Tang pada
abad VII-X.
Kesenian Barong Kemiren
Barong Kemiren adalah kesenian asli dari Desa
Kemiren,Glagah. Salah seorang budayawan asli Kemiren, Andi (45),
menuturkan barong Kemiren hasil ciptaan asli warga Kemiren kuno.
Namanya, Sanimah abad ke-16. Barong kuno itu bentuknya jelek dan buruk
rupa. Barong kuno itu kemudian diwariskan kepada anaknya, Tompo ( Eyang
Buyut Tompo/ Mbah Tompo ). Selama penjajahan Belanda
Tompo mengungsi ke kota sambil membawa barong. Di kota, Tompo bertemu
Sukip dan Win yang ahli membuat barong. Karena terkesan, Tompo yang
banyak memiliki uang meminta dua ahli barong itu untuk membuatkannya.
Lahirlah barong baru yang lebih bagus. Usai perjuangan perang melawan
Belanda, Tompo kembali ke Kemiren sambil membawa barong barunya. Sejak
itu, barong memasyarakat di Kemiren. Barong Tompo kemudian diwariskan ke
Surtaman dan Samsuri. Dari sinilah kesenian Barong tumbuh hingga
sekarang. Lain lagi halnya menurut penuturan Sucipto tentang barong
Kemiren, pada sekitar tahun 1647 Mbah Tompo bermimpi diminta membuat
barong. Bersama temannya, Mbah Soeb, keduanya melaksanakan perintah
dalam mimpi itu. "Anehnya, ketika membuat barong, tangan mereka seperti
ada yang menggerakkan. Jadilah bentuk barong seperti barong yang dikenal
sekarang," tutur Ketua Barong Tresno Budoyo ini. Barong yang dibuat
Mbah Tompo dan Soeb inilah yang terus dipakai sampai sekarang.
Diperkirakan usia barong sekitar 361 tahun. Meski usianya sudah
berabad-abad, fisik barong tetap utuh. Barong ini harus disimpan oleh
keturunan Mbah Tompo, yang sekarang sudah sampai pada generasi keempat.
Konon saat itu ada cerita lain lagi, di desa Kemiren ada pertunjukan
Seblang yang dimainkan Embah Sapua. Ketika penari seblang kesurupan,
terjadilah dialog dengan Eyang Buyut Tompo agar pementasan seblang
dipindah ke desa Ole-Olean ( Olehsari ), sedangkan di desa Kemiren
dipentaskan seni barong. Sejak saat itu ada ketentuan yang harus
dipegang teguh oleh masyarakat, yakni masyarakat Desa Kemiren tidak
diperkenankan mementaskan seblang, dan sebaliknya masyarakat Olehsari
tidak boleh mementaskan barong. Seni Barong yang diciptakan BuyutTompo
ini didasari oleh leluhur masyarakat Kemiren, Eyang Buyut Cili, yakni
tokoh yang dimitoskan dan dianggap sebagai danyang atau penjaga desa
Kemiren. Oleh karenanya setiap pementasan, yakni tatkala barong
mengalami kesurupan yang masuk/merasuki adalah Eyang Buyut Cili. Tari
Barong Di beberapa Prosesi Ritual Di Kemiren Pada awalnya, Tari Barong
adalah seni pertunjukan yang bersifat sakral dan pementasannya
dilaksanakan hanya pada saat-saat tertentu, misalnya pada saat upacara
bersih desa yang diselenggarakan pada minggu pertama bulan Haji (Besar).
Tetapi, dewasa ini seni barong sudah menjadi pertunjukan yang bersifat
hiburan sehingga bisa dipentaskan pada saat pesta perkawinan, khitanan,
atau pergelaran-pergelaran seni lainnya. Kesenian ini merupakan seni
rakyat yang secara khusus mengandung ciri khas Using, baik yang
menyangkut musik, tari, dialog, maupun ceritanya. Tari Barong biasanya
diiringi beberapa gamelan khas, seperti kendang, kecrek, gong dan ketuk.
Sekilas, gamelan Barong mirip Kuda Lumping dan Reog Ponorogo. Bedanya,
Barong tidak menggunakan terompet. Personal Barong 12 orang, terdiri
atas dua penari Barong, dua penari berbentuk ayam. Barong ditarikan dua
orang, di kepala dan di bagian ekor. Gending pengiring Barong sarat
petuah kehidupan. Musiknya rancak seperti orang bertarung sebagai simbol
kebersamaan. Ada sekitar 20 jenis gending pengiring Barong. Di
antaranya, kembang jeruk, prejengan dan kopyahan. Dalam sekali tarian
membutuhakan waktu sekitar 2 jam. Tari Barong diakhiri tari Ayam
Bertarung, simbol suasana kemenangan.
Acara
Sudah menjadi kewajiban bagi masyarakat setempat menanggap barong
Kemiren dalam hajat apa pun. Dengan menanggap barong, sang pengantin
berharap rumah tangganya selalu bahagia dan mendapat banyak
keberuntungan. Masyarakat Kemiren pun menjadikan acara ini sebagai
hiburan yang tak pernah lekang. Saat prosesi biasanya barisan
macan-macanan berada di depan barong, di belakang barong, sepasang
pengantin duduk di atas kereta kuda. Iring-iringan diarak berkeliling
desa dan berakhir di rumah sang pengantin. Tontonan ini disebut
arak-arakan Barong Kemiren, yang ditanggap dalam hajat perkawinan
tradisional di desa yang berjarak 6 kilometer dari Kota Banyuwangi itu..
Barong Kemiren bisa juga ditanggap semalaman suntuk.
Dengan tiga tahap cerita, barong dimainkan. Barong Kemiren tak
sekadar menjadi kesenian yang ditanggap untuk menghibur. Oleh warga
desa, yang sebagian besar petani, barong sangat disakralkan karena
dipercaya memiliki kekuatan magis arwah nenek moyang.
Pemangku adat Desa Kemiren, Serad, bercerita, barong dipakai dalam
upacara bersih desa, yang dilakukan setiap setiap tanggal 2 Syawal atau
Lebaran ( idul Fitri ) kedua, yang disebut upacara Idher Bumi. Barong
dengan tabuhan gamelan mengelilingi desa dan ditutup dengan makan
bersama di sepanjang jalan desa. Dalam acara Ider Bumi ada empat jenis
tarian Barong yang ditampilkan dan mempunyai cerita sendiri-sendiri.
Keempat jenis Barong tersebut adalah Barong Tua, Barong Remaja, Barong
anak-anak dan Barongsai. Keempat jenis Barong adalah sebagai lambang
generasi-generasi yang menghuni desa Kemiren. Diikutkannya Barongsai
dalam acara tersebut karena di desa Kemiren yang terkenal dengan Kampung
Using ternyata ada etnik lain yang menghuninya, yaitu Tionghoa. Acara
serupa dilaksanakan setiap tanggal 1 bulan Haji dengan membuat seribu
tumpeng atau dikenal dengan selamatan "Tumpeng Sewu". "Ritual ini
sebagai ucapan syukur masyarakat karena diberikan rejeki berlebih,"
Serad menambahkan. Barong sebagai sarana ritual kesuburan tampak pada
makanan yang disajikan, yakni makanan hasil bumi, seperti nasi tumpeng
dan sayur, jajan pasar, pala kependhem, pala gumandhul, dan pala
kesimpar. Selain Ritual ini dilaksanakan untuk menghormati danyang desa
Kemiren agar kemakmuran desa tetap terjaga dan terjauhkan dari bencana.
Tersebutlah riwayat 20 tahun lalu. Upacara ini pernah ditinggalkan
karena hujan lebat. Beberapa hari kemudian, istri salah satu ahli waris
barong kesurupan. Ia berteriak-teriak marah karena Idher Bumi tidak
digelar. Tidak lama kemudian, bayi wanita itu meninggal. "Kami takut
kalau sampai ritual Idher Bumi tidak digelar," kata Serad. Kesakralan
Barong juga dimanfaatkan untuk pengobatan penyakit. Obat diambilkan dari
kemenyan yang dibakar di bawah tubuh barong, lalu dilarutkan dalam air,
yang dipercaya bisa mengobati berbagai penyakit, mulai buta hingga
sakit perut.mulai pukul 21.00 sampai 06.00 keesokan harinya.
Barong Dan Regenerasi
Adalah Sucipto, 45 tahun, lelaki kelahiran Banyuwangi itu, tengah
berupaya melakukan regenerasi agar kesenian itu tak punah. Melihat
pemain kesenian barong yang kian uzur usianya, membuatnya resah. Tanpa
menghilangkan keasliannya, ia mempermudah pakem kesenian itu agar bisa
memancing minat kalangan muda. "Saya tidak mau berkutat pada pakem. Saya
bikin tarian-tarian dan cerita sendiri yang lebih mudah dihafal anak
muda. Waktu bermainnya saya singkat menjadi satu setengah jam saja,"
kata Sucipto, yang sudah bermain barong sejak anak-anak. Dari tiga tahap
cerita pada barong, Sucipto meringkasnya menjadi satu tahap saja. Isi
cerita lebih bermuatan pesan moral, mengajak orang saling menghormati
dan tidak mengambil hak orang lain. Benar saja. Lebih dari 50 remaja
Desa Kemiren menawarkan diri bermain barong. Sucipto memilih 36 orang.
Pada 21 Mei 2007, terbentuklah Barong Lancing ( perjaka ) atau Barong
Sapujagat, yang anggotanya berasal dari remaja usia SMP dan SMA. Ia juga
membentuk Barong Cilik dari kalangan TK dan SD. Semua peralatan
disesuaikan dengan kemampuan anak-anak ini. "Saya orang Kemiren. Kalau
bukan saya, siapa yang mau peduli meneruskan barong Kemiren?" tutur
Ketua Barong Cagar Budoyo Kemiren ini. Ternyata upaya Sucipto mendapat
apresiasi masyarakat. Terbukti beberapa waktu yang lalu, pernah Barong
Lancing diundang Gubernur Jawa Timur Imam Utomo menggelar pentas dalam
sebuah acara di Surabaya. Upaya melestarikan Kesenian Barong di
Banyuwangi makin ditingkatkan dengan diadakannya Festival Tari Barong
untuk kategori kelompok dewasa maupun Anak-anak dengan penilaian kreasi
gending dan kreasi seni barong yang ditampilkan. Sebelumnya di Kabupaten
Banyuwangi yang masih mempertahankan orisinilitas kesenian barong
kurang lebih berjumlah empat kelompok, yaitu kelompok Seni Barong
Kemiren,Mandalikan, Mangli, dan Jambesari. Akan tetapi, dari keempat
kelompok itu hanya kelompok seni Barong Kemiren saja yang masih utuh
"keUsingannya" dan sering melakukan pementasan. Akhirnya Barong Kemiren
menjadi tarian khas Banyuwangi, bahkan salah satu ikon pariwisata tanah
Blambangan. Barong Kemiren pernah pentas di Osaka, jepang , dalam festival tradisional dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar